Saat Guru Menegur, Cinta yang Bekerja

Dipublikasikan oleh masjidhafidzalaqsha@gmail.com pada

Dalam perjalanan mendidik generasi Qur’ani, tidak semua proses berjalan mulus. Ada kalanya muncul dinamika antara santri, orang tua, dan para ustadz di pesantren. Seperti halnya kejadian yang baru-baru ini ramai dibicarakan, ketika seorang siswa dan orang tuanya melaporkan gurunya karena dianggap terlalu keras dalam memberikan teguran dan sanksi.

Sebagai lembaga pendidikan berbasis Al-Qur’an, Pesantren Hafidz Al Aqsha memahami bahwa mendidik bukan sekadar mengajarkan ilmu, tetapi juga membentuk akhlak dan karakter. Dalam proses inilah, sering kali dibutuhkan ketegasan dan kedisiplinan agar santri tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, beradab, dan bertanggung jawab.

Namun, pesantren juga menyadari bahwa setiap anak memiliki latar belakang dan karakter yang berbeda. Maka, pendekatan dalam mendidik pun harus disesuaikan dengan penuh kasih sayang dan kebijaksanaan. Karena itu, di antara teguran dan sanksi yang diberikan, selalu ada niat untuk mendidik, bukan menghukum.


Peran Orang Tua dalam Sinergi Pendidikan

Pendidikan santri tidak akan berhasil tanpa sinergi antara pesantren dan orang tua. Di pesantren, para ustadz mendidik dengan ilmu dan pengalaman, sementara di rumah, orang tua menguatkan dengan doa dan pengertian.

Orang tua perlu memahami bahwa lingkungan pesantren berbeda dengan lingkungan rumah. Santri belajar hidup mandiri, menghadapi peraturan, serta membangun kedisiplinan diri. Maka ketika anak mendapatkan teguran, bukan berarti ia diperlakukan tidak adil — justru itu adalah bagian dari proses pendewasaan dan pembentukan karakter.

Pesantren Hafidz Al Aqsha terus berupaya menjaga komunikasi terbuka dengan orang tua santri. Karena dalam pandangan kami, guru bukanlah pengganti orang tua, melainkan perpanjangan tangan mereka dalam mendidik anak-anak agar menjadi generasi Qur’ani yang berakhlak mulia.


Belajar Sabar dan Lapang Dada

Peristiwa ini menjadi cermin bagi kita semua — bahwa mendidik adalah proses panjang yang memerlukan kesabaran dari semua pihak. Baik guru maupun orang tua, keduanya memiliki tanggung jawab yang sama besar di hadapan Allah.

Mari kita jaga niat suci ini. Bahwa setiap teguran yang diberikan, setiap kesalahpahaman yang terjadi, adalah bagian dari ujian menuju kebaikan bersama. Pesantren Hafidz Al Aqsha berkomitmen untuk terus memperbaiki diri, memperkuat komunikasi, dan menjaga nilai-nilai tarbiyah agar tidak hanya melahirkan santri yang cerdas, tapi juga berjiwa lembut dan beradab.


1 Komentar

Abu bakar Amir · Oktober 24, 2025 pada 12:28 pm

Masya Allah, Pondok Pesantren adalah lembaga yang bukan hanya sekedar mendidik tetapi lebih dari itu, yaitu menanamkan semua nilai nilai kebaikan, kedisiplingan, kemandirian, keshalehan spiritual dan keshalehan sosial sehingga akan mencetak generasi yang bukan sekadar cerdas akan tetapi juga memiliki jiwa serta perilaku yang tegas, disiplin namun tetap berjiwa lembut dan beradab.
Selamat Hari Santri Nasional 22 Oktober 2025

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *